Join The Community

Premium WordPress Themes

Search

Senin, 14 Mei 2012

AGAMA, FUNGSI DAN SUBSTANSI AGAMA


Pengertian Agama
Secara etimologi, kata agama berasal dari bahasa sanserketa, yang berarti dari akar kata
 gam
artinya
 pergi
. Kemudian kata gam
tersebut mendapat awalan a
dan akhiran a.
Makaterbentuklah kata agama artinya jalan. Maksudnya, jalan untuk mencapai kebahagiaan.Secara terminology, agama adalah kepercayaan kepada Tuhan yang dinyatakan denganmengadakan hubungan-hubungan dia melalui upacara, penyembahan, dan membentuk sikaphidup manusia menurut atau berdasarkan ajaran agama itu.
B.Tujuan Agama
Salah satu tujuan agama adalah membentuk jiwa budi pekerti dengan adab yangsempurna baik dengan Tuhan-Nya maupun dengan lingkungan masyarakat. Semua agama sudahsangat sempurna dikarenakan dapat menuntun umatnya bersikap dengan baik dan benar, sertadibenarkan. Keburukan cara bersikap dan penyampaian pemeluk agama dikarenakanketidakpahaman tujuan daripada agamanya. Memburukkan dan mebandingkan agama satudengan yang lain adalah cerminan kebodohan si pemeluk agama.Beberapa tujuan agama ;a)

Menegakkan kepercayaan manusia hanya kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa(tauhid). b)

Mengatur kehidupan manusia didunia agar kehidupan teratur dengan baik, sehinggamencapai kesejahteraan hidup, lahidan batin.c)

Menjunjung tinggi dan melaksanakan peribadatan hanya kepada Allah SAW.d)

Menyempurnakan kahlak manusia.

C. Fungsi Agama Bagi Manusia
Pemahaman mengenai filsafat adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budimengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal dan hukumnya. Sedangkan tinjauan filsafat darihasilpemikiran rasional,kritis, sistematis dan aradikal tentang aspek-aspek agama dan ajaranIslam.


SUBSTANSI AGAMA
Agama bisa dilihat melalui 2 pendekatan yaitu fungsional dan substantif. Secara substantif kita bertanya, “Apa yang diyakini atau dipercaya oleh individu dan umat dari agamanya?” Kita membuat definisi fungsional jika kita bertanya” Apa peran agama dalam kehidupan personal dan masyarakat?”
Mendefinisikan agama secara substantif memang sangat gampang. Dengan mudah, kita dapat membedakan kegiatan keagamaan dan bukan kegiatan keagamaan. Memakai busana, mandi, bernyanyi, menari, berbicara bisa kita sebut kegiatan agama jika dihubungkan dengan doktrin atau kepercayaan agama, lalu apa inti kepercayaan agama? Tuhan, yang transenden, yang sakral, yang suci, yang diluar (The Beyond). Singkatnya, apa saja yang dihubungkan dengan Tuhan atau dengan yang sakral itulah yang kita sebut sebagai agama. Walaupun definisi substantif sangat sederhana tetapi cakupannya terlalu luas.
Definisi substatntif menghubungkan agama dengan Tuhan atau konsep-konsep sejenis, sedangkan definisi fungsional menghubungkan agama dengan upaya manusia menjawab masalah-masalah kehidupan, masalah eksistensial. Batson, Schonrade, dan ventis (Rachmat,2005:35) mendefinisikan agama secara fungsional “ Agama adalah apa saja yang kita lakukan sebagai individu dalam usaha kita mengatasi masalah-masalah yang kita hadapi karena kita sadar bahwa kita, dan yang lain seperti kita, hidup dan bakal mati”
Memang tidak setiap saat pertanyaan itu datang kepada kita. Tidak setiap waktu kita mempertanyakan soal hidup dan mati. Ada yang beranggapan bahwa pertanyaan eksistensial seperti itu hanyalah pemikiran orang orang barat. Itupan setelah mereka terpenuhi kebutuhan dasarnya.
Batson, Schoenrade, dan Ventis memberikan beberapa bukti dan laporan sebagai berikut (Rachmat,2005:38)
“Ada juga bukti bahwa orang menghubungkan pertanyaan seperti ini dengan agama. Dalam sebuah survei yang mengambil 2.500 orang mahasiswa dan orang dewasa Amerika, Braden (1947) menemukan bahwa alasan yang paling sering disebut untuk mengikuti agama adalah bahwa “ Agama memberi makna pada kehidupan ”. Dalam sebuah survei besar tingkat nasional di Inggris, ditemukan bahwa kematian adalah kata yang menimbulkan asosiasi keagamaan. Begitu pula Newman dan Pargament (1990) menemukan dalam sampel mahasiswa S1 bahwa masalah yang paling sering dihubungkan dengan agama adalah kematian, sakit, atau kecelakaan anggota keluarga.”
Leuba, tokoh psikologi agama klasik, menulis “ Agama tidak hanya berurusan dengan objek-objek yang bernilai paling tinggi, atau paling akhir, bagi individu atau masyarakat, tetapi juga dengan pemeliharaan atau pengembangan hidup dalam segala urusan, besar atau kecil.” (Rachmat, 2005:40)

0 komentar:

Poskan Komentar