Join The Community

Premium WordPress Themes

Search

Selasa, 06 Maret 2012

MUNASABAH AL-QUR’AN


Pengertian Ilmu Munasabah
Di sudut bahasa, al-munasabah berarti al-musyakalah (saling menyerupai) dan al-muqarabah (saling mendekati).
Di sudut istilah, al-munasabah berarti adanya keserupaan dan kedekatan di antara kalimah-kalimah, ayat-ayat dan surah-surah al-Quran yang membawa kepada wujudnya hubungan perkara-perkara tersebut. Hubungan tersebut samada berbentuk kaitan pada makna ayat-ayat seperti hubungan sebab dan musabbab, hubungan kesetaraan dan hubungan perlawanan. Al-Munasabah juga terdapat dalam bentuk penguatan, penafsiran dan penggantian.
Al-Munasabah antara kalimah-kalimah, ayat-ayat dan surah-surah al-Quran ialah: bentuk-bentuk pertautan dan keterikatan antara satu sama lain bersesuaian dengan susun atur bacaan dalam mushaf al-Quran.
Oleh itu, Ilmu al-Munasabah adalah suatu ilmu bagi mengetahui bentuk-bentuk susunan al-Quran dan ‘illah-‘illahnya.
Kewujudan ilmu al-Munasabah
Para ulama bersepakat bahawa susunan ayat-ayat Al Qur’an adalah tauqifi (berdasarkan petunjuk Allah dan Nabi-Nya). Namun para ulama berbeda pendapat mengenai susunan surah-surah dalam Al-Qur’an. Mayoritas ulama berpendapat bahawa susunan surah-surah Al-Qur’an sebagaimana yang terdapat di dalam mushaf yang wujud sekarang adalah juga tauqifi. Asas pendapat ini ialah peristiwa kedatangan Jibril a.s. setiap tahun untuk memper”lihat”kan ayat-ayat al-Quran kepada baginda Nabi SAW. Termasuk yang diperdengarkan kepada Rasulullah SAW itu ialah susunan ayat-ayat dan surah-surahnya.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ يُعْرَضُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ فِي كُلِّ سَنَةٍ مَرَّةً فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ عُرِضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ
Artinya: dari Abu Hurairah r.a beliau berkata: “telah diper”lihat”kan kepada Nabi SAW al-Quran pada setiap tahun sekali. Pada tahun yang baginda wafat, diper”lihat”kan kepadanya dua kali.”
Sebagian ulama juga berpandangan bahwa susunan ayat-ayat Al-Qur’an  adalah masalah ijtihadi. Pendapat ini berdasarkan beberapa alasan.
Pertama: mushaf pada catatan para sahabat tidak sama antara satu dengan lainnya. Kedua: sahabat pernah mendengar Nabi membaca Al-Qur’an berbeda dengan susunan surah yang terdapat dalam Al-Qur’an.
Ketiga: adanya perbedaan pendapat dalam masalah susunan surah Al-Qur’an ini membuktikan bahwa tidak adanya petunjuk yang jelas berkaitan susun atur yang dimaksudkan.
Selain itu, ada juga di kalangan ulama yang berpendapat bahawa sebagian susunan surah al-Quran ini adalah tauqifi dan manakala yang lainnya merupakan ijtihad dariUthman Bin ‘Affan r.a. Pendapat ini mengemukakan beberapa alasan. Menurut pendapat ini, tidak semua nama surah Al-Qur’an diberikan oleh Allah, tetapi sebagiannya diberikan oleh Nabi SAW, sedangkan yang lainya diberikan oleh para sahabat. Uthman pernah ditanya mengapa surah Al-Bara’ah (at-Taubah) tidak dimulaidengan basmalah. Beliau menjawab bahwa ia melihat isinya yang sama dengan surah sebelumnya, yakni surah al-Anfal.
Meskipun ketiga pendapat ini memiliki alasan dan hujah, tetapi hujah  yang dikemukakan itu tidak semuanya memiliki tingkat keabsahan yang sama. Alasan pendapat yang mengatakan susunan surah itu sebagai ijtihad nampak tidak kuat. karena:
i- Riwayat tentang sebagian sahabat pernah mendengar Nabi membaca Al-Qur’an berbeda dengan susunan mushaf yang sekarang dan adanya catatan mushaf sahabat yang berbeda bukanlah riwayat mutawatir. Sedangkan mushaf sekarang adalah berdasarkan hadis mutawatir.
ii- Tiada jaminan bahwa semua sahabat yang memiliki catatan mushaf itu hadir bersama Nabi setiap saat turun ayat Al-Qur’an. Oleh sebab itu, kemungkinan mushaf sebagian sahabat itu tidak valid adalah besar.
Demikian juga alasan pendapat yang mengatakan sebagian surah adalah tauqifi dan selainnya ijtihadi tidak kuat.
i- Keterangan bahwa Nabi SAW tidak sempat menjelaskan letak surat al-Bara’ah sehingga Uthman menempatkannya sebelum surat al-Anfal adalah riwayat yang lemah.
ii- Dari segi matan juga ia lemah kerana Nabi SAW wafat tiga tahun setengah setelah turunnya surah al-Bara’ah. Tentunya dalam tempo sepanjang itu tidak logis baginda SAW tidak sempat menjelaskan letak sebuah surah, sedang Nabi setiap tahun membacakan Al-Qur’an kepada Jibril sabagaimana riwayat yang sahih. Justeru itu, pendapat mayoritas ulama adalah lebih kuat daripada dua pendapat yang lain.
Bertitik tolak dari pendapat jumhur tersebut, dapat difahami bahwa petunjuk Rasulullah SAW tentang susunan ayat dan surah al-Quran itu tidak akan sia-sia. Ia tentunya mempunyai hikmah dan rahasia. Namun ilmu ini termasuk antara ilmu yang kurang mendapat perhatian dari para mufassir. Tidak kurang juga terdapat sebagian ulama yang menentang adanya ilmu ini. Justeru buku-buku Ulum al-Qur’an, jarang membahas topik ini. Ilmu al-Munasabah ini sebagaimana yang ditegaskan oleh al-Suyuthi termasuk ilmu yang rumit dan ia bersifat ijtihadi.
Signifikansi al-Munasabah
Pengetahuan tentang munasabah Al-Qur’an terutama bagi seorang mufassir sangat penting. Antara lain:
i- Membongkar makna yang tesirat dalam susunan dan urutan kalimah-kalimah, ayat-ayat, dan surah-surah Al-Qur’an sehingga bagian-bagian dari Al-Qur’an itu saling berhubungan dan tampak menjadi satu rangkaian yang utuh dan berkaitan satu sama lain. Ia dinamakan oleh Sayyid Qutb sebagai ‘al-wahdah al-madhu‘iyyah’ (kesatuan topik).
ii- Memudahkan pemahaman Al-Qur’an. Misalnya ayat enam dari surat al-Fatihah yang artinya, ‘tunjukanlah kami kepada jalan yang lurus’ disambung dengan ayat ketujuh yang artinya ‘yaitu jalan orang-orang yang Engkau anugerahi nikmat atas mereka. Antara kedua ayat tersebut terdapat hubungan penjelasan yaitu jalan yang lurus yang dimaksudkan adalah jalan orang-orang yang telah mendapatkan nikmat dari Allah SWT.
iii- Mengukuhkan keyakinan akan kebenaran al-Quran sebagai wahyu Allah. Meskipun Al-Qur’an yang terdiri dari atas 6236 ayat diturunkan dan ditulis di tempat, keadaan dan peristiwa yang berbeda, selama dua puluh tahun lebih, namun dalam susunannya mengandung makna yang mendalam berupa hubungan yang kuat antara satu bagian dengan bagian yang lain.
iv- Menolak tuduhan bahwa susunan al-Qur’an adalah tidak teratur. Contohnya surah al-Fatihah yang ditempatkan pada awal mushaf sehingga surah inilah yang pertama dibaca, sedangkan wahyu yang pertama diturunkan ialah lima ayat pertama surah al-Alaq. Nabi SAW menetapkan al Fatihah di awal mushaf disusul dengan surah al-Baqarah dan seterusnya. Setelah diteliti, ternyata dalam urutan ini terdapat munasabah. Surah al-Fatihah mengandung asas-asas syariat Islam dan pada surah ini ada doa manusia untuk memohon petunjuk ke jalan yang lurus. Surah al-Baqarah pula dimulai dengan petunjuk al-Kitab sebagai pedoman menuju jalan yang lurus. Oleh karena itu, surah al-Fatihah merupakan titik perbahasan yang akan diperinci pada surah-surah berikutnya seperti al-Baqarah. Dengan membuktikan munasabah tersebut, ternyata susunan ayat-ayat dan surat-surat al-Qur’an tidak asal-asalan atau tidak teratur, sebaliknya penyusunan itu mempunyai makna yang mendalam.
Sejarah Penulisan al-Munasabah
Tokoh yang mula-mula membicarakan tentang ilmu ini ialah al-Imam Abu Bakr an-Naisaburi (meninggal 323H). Selain beliau terdapat banyak lagi ulama yang membahas. Antara lain:
1. Al-Imam al-Biqa‘ie - Nazm ad-Durar fi Tanasub al-Ayi was Suwar
2. Al-Imam as-Suyuti – Tanasuq ad-Durar wa Tanasub as-Suwar
3. Al-Imam al-Farahi al-Hindi – Dala’il an-Nizam
Selain mereka para ulama seperti az-Zamakhsyari, ar-Razi, al-Baidhawi, Abu Hayyan, al-Alusi, Rasyid Ridha, Sayyid Qutb, Dr. Muhammad Abdullah Darraz dan lain-lain turut menyentuh tentang ilmu ini dan mempraktikkannya dalam penulisan kitab-kitab tafsir mereka.
Sungguhpun begitu, ilmu ini bukanlah disepakati kewujudannya atau diterima oleh semua ulama, mereka yang kontra mewajibkan syarat yang ketat untuk ilmu ini ialah: ‘Izzudin Bin Abdis Salam, as-Syaukani, as-Syinqiti dan sebagainya. Mereka ini berhujah bahwa ilmu al-Munasabah ini adalah takalluf (beban) dan ia tidak dituntut oleh syara’.
Jenis-jenis al-munasabah
Secara umum al-munasabah terbagi menjadi beberapa macam, yaitu:
i- munasabah antara surah dengan surah;
ii- munasabah antara nama surah dengan kandungannya;
iii- munasabah antara himpunan ayat-ayat dalam surah yang sama;
iv- munasabah antara ayat dengan ayat dan hubungan  antara satu dengan lainnya;
v- munasabah antara kalimah dengan kalimah.
i- Munasabah antara surah dengan surah
Surah-surah Al Qur’an mempunyai munasabah kerana surah yang datang kemudian menjelaskan topik yang jelas disebutkan secara umum dalam surah sebelumnya. Sebagai contoh, surah al-Baqarah memberikan perincian dan menjelaskan bagi surah al-Fatihah. Surah Ali Imran  juga merupakan surah berikutnya memberi penjelasan lebih lanjut tentang kandungan surat al-Baqarah. Selain itu munasabah dapat membentuk tema pokok dari berbagai surah, contoh: ikrar ketuhanan, kaidah-kaidah agama dan dasar-dasar agama. Ini semua merupakan tema-tema pokok dari surah al-Fatihah, al Baqarah, dan Ali ‘Imran. Ketiga surah ini saling mendukung tema pokok tersebut.
ii- Munasabah antara nama surah dengan kandunganya
Nama-nama surah yang ada di dalam Al-Qur’an memiliki kaitan dengan topik yang ada dalam isi surah. Surah al-Fatihah disebut juga Umm al-Kitab kerana ia memuat berbagai tujuan Al Qur’an.
iii- Munasabah antara ayat dengan ayat dalam surah yang sama
Munasabah dalam bentuk ini secara jelas dapat dilihat dalam surah-surah pendek, contohnya: surah al-Ikhlas, tiap-tiap ayat yang terdapat dalam surah itu menguatkan tema pokoknya yaitu tentang keesaan Tuhan.
iv- Munasabah antara ayat dengan ayat dan hubungan antara satu sama lain
Keadaan ini bisa didapati dalam berbagai keadaan, antara lain: munasabah antara penutup ayat dengan isi ayat. Munasabah disini bertujuan penguatan, misalnya firman Allah;
Artinya: “Dan Allah menghalau orang-orang kafir yang keadaan mereka penuh kejengkelan, meraka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan. Dan Allah adalah Maha Kuat lagi Maha Perkasa”
Sekiranya ayat ini terhenti pada “Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan”, niscaya makna yang boleh difahami oleh orang-orang lemah sejalan dengan pendapat orang-orang kafir yang menyangka bahwa mereka mundur dari medan perang kerana angin yang kebetulan bertiup. Padahal, bertiupnya angin bukan suatu kebetulan, tetapi atas rencana Allah mengalahkan musuh-musuh-Nya dan musuh kaum Muslim. Karena itu, ayat-ayat ini ditutup dengan mengingatkan kekuatan dan kegagahan Allah SWT menolong kaum Muslim.
Situasi yang lain pula adalah seperti munasabah antara akhir satu surah dengan awal surah berikutnya. Munasabah ini dapat dilihat misalnya pada surat Al-Qashash. Permulaan surat menjelaskan perjuangan Nabi Musa, diakhir surat memberikan kabar gembira kepada Nabi Muhammad SAW yang menghadapi tekanan dari kaumnya, dan akan mengembalikannya ke Mekkah. Di awal surat, larangan menolong orang yang berbuat dosa dan di akhir surat larangan menolong orang kafir. Munasabah disini terletak pada kesamaan situasi yang dihadapi dan sama-sama mendapatkan jaminan dari Allah SWT.
v- Munasabah antara kalimah dengan kalimah dalam satu surah
Munasabah antara kalimah dalam Al Qur’an ada kalanya memakai huruf athaf (kata hubungan) dan ada kalanya tidak. Munasabah yang memakai huruf athaf (kata hubung) biasanya mengambil teknik tadhâd (berlawanan). Misalnya pada ayat:
Artinya: “Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya”
dan ayat:ﯳ
Artinya: “Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) serta kepada-Nyalah kamu dikembalikan”
Kata (masuk dan keluar) dan (menyempitkan dan melapangkan) dinilai sebagai hubungan berupa perlawanan.
Sementara itu munasabah yang tidak memakai huruf ‘athaf (penghubung), sandarannya adalah qarinah maknawiyyah (indikasi maknawi). Aspek ini boleh muncul dalam beberapa bentuk, contohnya:
a) Menerangkan keadaan yang berlawanan seperti yang terkandung dalam firman Allah:
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang kafir sama saja engkau beri peringatan mereka atau tidak engkau beri peringatan mereka tidak akan beriman”
Munasabahnya adalah bahawa ayat ini menerangkan watak orang kafir, sedangkan beberapa ayat sebelumnya menerangkan watak orang mukmin.
b) Menyatakan peralihan topik kepada penjelasan lain. Firman-Nya:
Artinya: “Wahai anak-anak Adam! Sesungguhanya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa adalah yang paling baik. Demikian itu merupakan sebahagian dari tanda-tanda(kekuasaan) Allah mudah-mudahan kamu selalu ingat”
Ayat ini menjelaskan nikmat Allah, sedang ditengahnya dijumpai sebutan pakaian taqwa yang mengalihkan perhatian untuk menyadari betapa unsur taqwa terdapat juga pada cara berpakaian.
Langkah-langkah untuk menemui al-munasabah
Adapun langkah-langkah yang ditempuh untuk mendapatkan al-munasabah antara lain adalah sebagai berikut:
i- Melihat tema pokok dari surah tertentu;
ii- Melihat premis-premis yang diperlukan untuk mendukung tema pokok;
iii- Mengkategorikan premis-premis tersebut berdasarkan jauh dan dekatnya  dengan tujuan;
iv- Melihat kalimah-kalimah yang saling mendukung di dalam premis.

0 komentar:

Poskan Komentar