Join The Community

Premium WordPress Themes

Search

Senin, 05 Maret 2012

ASBABUL NUZUL



1. Pengertian Asbabul Nuzul
Asbabul nuzul artinya sebab-sebab turunnya ayat-ayat al-qur’an.Asbabul nuzul atau asbab al-nuzul (sebab turun al-qur’an) di sini di maksudkan sebab-sebab yang secara khusus berkaitan dengan turunnya ayat-ayat tertentu.
Apabila satu kasus (kejadian),kemudian turun satu atau beberapa ayat yang berhubungan dengan kasus (kejadian) tersebut,maka itu di sebut asbabul nuzul. Dari segi lain kadang-kadang ada suatu pertanyaan yang di lontar kan kepada nabi Muhammad saw tentang suatu hukum atau penjelasan secara terperinci tentang urusan agama, maka turun lah satu atau beberapa ayat yang berhubungan dengan pertanyaan tersebut,hal ini pun di sebut asbabul nuzul.
Untuk menafsirkan qur’an ilmu asbabun nuzul sangat diperlukan sekali, sehingga ada pihak yang mengkhususkan diri dalam pembahasan dalam bidang ini, yaitu yang terkenal diantaranya ialah Ali bin madani, guru bukhari, al-wahidi , al-ja’bar , yang meringkaskan kitab al-wahidi dengan menghilangkan isnad-isnadnya, tanpa menambahkan sesuatu, syikhul islam ibn hajar yang mengarang satu kitab mengenai asbabun nuzul.
Pedoman dasar para ulama’ dalam mengetahui asbabun nuzul ialah riwayat shahih yang berasal dari rasulullah atau dari sahabat. Itu disebabkan pembaritahuan seorang sahabat mengenai asbabun nuzul, al-wahidi mengatakan: “ tidak halal berpendapat mengenai asbabun nuzul kitab, kecuali dengan berdasarkan pada riwayat atau mendengar langsung dari orang-orang yang menyaksikan turunnya. Mengetahui sebab-sebabnya dan membahas tentang pengertian secara bersungguh-sungguh dalam mencarinya ”.
Para ulama’ salaf terdahulu untuk mengemukakan sesuatu mengenai asbabun nuzul mereka amat berhati-hati, tanpa memiliki pengetahuan yang jelas mereka tidak berani untuk menafsirkan suatu ayat yang telah diturunkan. Muhammad bin sirin mengatakan: ketika aku tanyakan kepada ‘ubaidah mengetahui satu ayat qur’an, dijawab: bertaqwalah kapada allah dan berkatalah yang benar. Orang-oarang yang mengetahui mengenai apa qur’an itu diturunkan telah meninggal.
Maksudnya: para sahabat, apabila seorang ulama semacam ibn sirin, yang termasuk tokoh tabi’in terkemuka sudah demikian berhati-hati dan cermat mengenai riwayat dan kata-kata yang menentukan, maka hal itu menunjukkan bahwa seseorang harus mengetahui benar-benar asbabun nuzul. Oleh sebab itu yang dapat dijadikan pegangan dalam asbabun nuzul adalah riwayat ucapan-ucapan sahabat yang bentuknya seperti musnad, yang secara pasti menunjukkan asbabun nuzul.
Al-wahidi telah menentang ulama-ulama zamannya atas kecerobohan mereka terhadap riwayat asbabun nuzul, bahkan dia (Al-wahidi ) menuduh mereka pendusta dan mengingatkan mereka akan ancaman berat, dengan mengatakan: “ sekarang, setiap orang suka mangada-ada dan berbuat dusta; ia menempatkan kedudukannya dalam kebodohan, tanpa memikirkan ancaman berat bagi orang yang tidak mengetahui sebab turunnya ayat ”.
2. Sebab – Sebab Asbabul Nuzul
Sebab turun nya al-qur’an adalah untuk memperbaiki aqidah,ibadah,akhlak dan pergaulan manusia yang sudah menyimpang dari kebenara. Karena itu, dapat di kata kan bahwa terjadi nya penyimpangan dan kerusakan dalam tatanan kehidupan manusia merupakan sebab turun nya al-qur’an. Al-qur’an di turun kan juga untuk member petunjuk kepada manusia kea rah tujuan yang terang dan jalan yang lurus dengan menegak kan asas kehidupan yang di dasar kan pada keimanan kepada allah swt dan rasul nya. Juga memberi tahu kan hal yang telah lalu,kejadian-kejadian yang sekarang serta berita-berita yang akan datang.
Sebab turun suatu ayat-ayat al-qur’an ada kala nya ber bentuk peristiwa dan ada kala nya berbentuk pertanyaan. Suatu ayat atau beberapa ayat al-qur’an turun untuk menerang kan hal yang berhubungan dengan peristiwa tertentu atau memberi jawaban terhadap pertanyaan tertentu.
Sebab-sebab turun ayat-ayat al-qur’an dalam bentuk peristiwa ada 3 (tiga) macam yaitu sbb:
1) Peristiwa berupa pertengkaran,
2) Peristiwa berupa kesalahan yang serius, dan
3) Peristiwa yang berupa cita-cita dan keinginan.
Adapun sebab-sebab turun nya ayat-ayat al-qur’an dalam bentuk pertanyaan dapat di kelompok kan 3 (tiga) macam yaitu sbb:
1) Pertanyaan yang berhubungan dengan sesuatu yang telah lalu,
2) Pertanyaan yang berhubungan dengan sesuatu yang sedang berlangsung pada saat itu, dan
3) Pertanyaan yang berhubungan dengan masa yang akan datang.
3. Macam – Macam Asbabul Nuzul
Dari segi jumlah dan ayat yang turun, asbabul nuzul terdiri atas ta’addud al-asbab wa al-nazil wahid (sebab turun nya lebih dari satu dan ini persoalan yang terkandung dalam ayat atau kelompok ayat yang turun satu) dan ta’addud al-nazil wa al-asbab wahid (ini persoalan yang terkandung dalam ayat atau sekelompok ayat yang turun lebih dari satu sedang kan sebab turun nya satu).
Sebab turun ayat di sebut ta’addud bila di temukan dua riwayat yang berbeda atau lebih tentang sebab turun suatu ayat atau sekelompok ayat tertentu. Sebalik nya, sebab turun itu disebut wahid atau tunggal bila di riwayat kan hanya satu. Suatu ayat atau sekelompok ayat yang turun di sebut ta’addud al-hazil, bila inti persoalan yang terkandung dalam ayat yang turun sehubungan dengan sebab tertentu lebih dari satu persoalan. Jika di temukan dua riwayat atau lebih tentang sebab turun ayat dam masing-masing menyebut kan suatu sebab yang jelas dan berbeda dari yang di sebut kan dari lawan nya, maka kedua riwayat ini di teliti. Permasalahan nya ada 4 (empat) bentuk yaitu sbb:
1) Salah satu dari kedua nya sahih dan lain nya tidak.
2) Kedua nya sahih akan tetapi salah satu nya mempunyai penguat (murajjih) dan lain nya tidak.
3) Kedua nya sahih dan kedua nya sama-sama tidak mempunyai penguat (murajjih) akan tetapi kedua nya dapat di kompromi kan.
4) Kedua nya sahih,tidak mempunyai penguat (murajjih), dan tidak mungkin mengambil kedua nya sekaligus.
4. Makna Ungkapan – Ungkapan Asbabul Nuzul
Ungkapan-ungkapan yang menunjuk kan sebab turun nya ayat al-qur’an,ungkapan-ungkapan itu beberapa bentuk sebagai berikut:
1) Asbabul nuzul di sebut kan dengan ungkapan yang jelas.
2) Asbabul nuzul juga menunjuk kan bahwa peristiwa itu adalah sebab bagi turun nya ayat tersebut.
3) Asbabul nuzul di pahami secara pasti dari konteks nya, dalam hal ini rasulullah di tanya orang. Mak ia di beri wahyu dan menjawab pertanyaan itu dengan ayat yang baru di terimanya.
4) Asbabul nuzul disebut kan ungkapan yang mengandung makna sebab dan makna lain nya, yaitu tentang hukum khusus atau persoalan yang sedang di hadapi.
5. Kegunaan atau Faedah Mengetahui Asbabul Nuzul
Secara terperinci, al-zaqarni menyebut kan bahwa ada beberapa kegunaan dan faedah dalam mengetahui asbabul nuzul yaitu:
1) Mengetahui bentuk hikmah rahasia yang terkandung dalam hokum suatu ayat.
2) Pengetahuan tentang asbabul nuzul membantu dalam memahami ayat dan menghindar kan kesulitan nya
3) Pengetahuan tentang asbabul nuzul dapat mencakup dugaan ada nya hars (pembatasan) dalam ayat yang menurut lahir nya mengandung hars (pembatasan)
4) Pengetahuan tentang asbabul nuzul dapat mengkhusus kan hukum pada sebab menurut ulama yang memandang bahwa yang mesti di perhati kan adalah ke khususan sebab dan bukan keumuman lafal.
5) Dengan mempelajari asbabul nuzul di ketahui pula bahwa sebab turun ayat tidak pernah keluar dari hukum yang terkandung dalam ayat tersebut.
6) Memberi kan ketegasan bila terdapat keragu-raguan.
7) Pengetahuan tentang asbabul nuzul akan mempermudah orang menghadapi ayat-ayat al-qur’an serta memperkuat ke beradaan wahyu dalam ingatan orang yang mendengar jika mengetahui sebab turunnya.
6. Pengetahuan Tentang Asbabul Nuzul
Perlunya mengetahui asbabun nuzul, al-wahidi berkata:” tidak mungkin kita mengetahui penafsiran ayat al-qur’an tanpa mangetahui kisahnya dan sebab turunnya ayat adalah jalan yang kuat dalam memahami makna al-qur’an”. Ibnu taimiyah berkata: mengetahui sebab turun ayat membantu untuk memahami ayat al-qur’an. Sebab pengetahuan tentang “sebab” akan membawa kepada pengetahuan tentang yang disebabkan (akibat).
Namum sebagaimana telah diterangkan sebelumnya tidak semua al-qur’an harus mempunyai sebab turun, ayat-ayat yang mempunyai sebab turun juga tidak semuanya harus diketahui sehingga, tanpa mengetahuinya ayat tersebut bisa dipahami, ahmad adil kamal menjelaskan bahwa turunnya ayat-ayat al-qur’an melalui tiga cara:
1. Pertama ayat-ayat turun sebagai reaksi terhadap pertanyaan yang dikemukakan kepada nabi.
2. Kedua ayat-ayat turun sebagai permulaan tanpa didahului oleh peristiwa atau pertanyaan.
3. Ketiga ayat-ayat yang mempunyai sebab turun itu terbagi menjadi dua kelmpok;
• Ayat-ayat yang sebab turunnya harus diketahui ( hukum ) karena asbabun nuzulnya harus diketahui agar penetapan hukumnya tidak menjadi keliru.
• Ayat-ayat yang sebab turunnya tidak harus diketahui, ( ayat yang menyangkut kisah dalam al-qur’an).
7. Pedoman Mengetahui Asbabul Nuzul
Aisyah pernah mendengar ketika khaulah binti sa’labah mempertanyakan suatu hal kepada nabi bahwasannya dia dikenakan zihar. Oleh suaminya aus bin samit katanya: “ Rasulullah, suamiku telah menghabiskan masa mudaku dan sudah beberapa kali aku mengandung karenanya, sekarang setelah aku menjadi tua dan tidak beranak lagi ia menjatuhkan zihar kepadaku”. Ya allah sesunguhnya aku mengadu kepadamu, aisyah berkata: tiba-tiba jibril turun membawa ayat-ayat ini; sesungguhnya allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengadu kepadamu tentang suaminya, yakni aus bin samit.
“Hal ini tidak berarti sebagai acuan bagi setiap orang harus mencari sebab turun setiap ayat”, karena tidak semua ayat qur’an diturunkan sebab timbul suatu peristiwa dalam kejadian, atau karena suatu pertanyaan. Tetapi ada diantara ayat qur’an yang diturunkan sebagai permulaan tanpa sebab, mengenai akidah iman, kewajiban islam dan syariat allah dalam kehidupan pribadi dan social.
Definisi asbabun nuzul yang dikemukakan pada pembagian ayat-ayat al-qur’an terhadap dua kelompok:
Pertama, kelompok yang turun tanpa sebab, dan kedua, adalah kelompok yang turun dengan sebab tertentu. Dengan demikian dapat diketahui bahwa tidak semua ayat menyangkut keimanan, kewajiban dari syariat agama turun tanpa asbabun nuzul.
Sahabat ali ibn mas’ud dan lainnya, tentu tidak satu ayatpun diturunkan kecuali salah seorang mereka mengetahui tentang apa ayat itu diturunkan seharusnya tidak dipahami melalui beberapa kemungkinan;
Pertama, dengan pernyataan itu mereka bermaksud mengungkapkan betapa kuatnya perhatian mereka terhadap al-qur’an dan mengikuti setiap keadaan yang berhubungan dengannya.
Kedua, mereka berbaik sangka dengan segala apa yang mereka dengar dan saksikan pada masa rasulullah dan mengizinkan agar orang mengambil apa yang mereka ketahui sehingga tidak akan lenyap dengan berakhirnya hidup mereka, bagaimanapun suatu hal yang logis bahwa tidak mungkin semua asbabun nuzul dari semua ayat yang mempunyai sebab al-nuzul bisa mereka saksikan. Ketiga, para periwayat menambah dalam periwatnya dan membangsakannya kepada sahabat.
Intensitas para sahabat mempunyai semangat yang tinggi untuk mengikuti perjalanan turunnya wahyu, mereka bukan saja berupaya menghafal ayat-ayat al-qur’an dan hal-hal yang berhubungan serta mereka juga melestarikan sunah nabi, sejalan dengan itu al-hakim menjelaskan dalam ilmu hadist bahwa seorang sahabat yang menyaksikan masa wahyu dan al-qu’an diturunkan tentang suatu ( kejadian ) maka hadist itu dipandang hadist musnad, Ibnu al-shalah dan lainnya juga sejalan dengan pandangan ini.
Asbabun Nuzul dengan hadist mursal, yaitu hadist yang gugur dari sanadnya seoarng sahabat dan mata rantai periwayatnya hanya sampai kepada seorang tabi’in, maka riwayat ini tidak diterima kecuali sanadnya shahih dan mengambil tafsirnya dari para sahabat, seperti mujahid, hikmah dan said bin jubair. para ulama menetapkan bahwa tidak ada jalan untuk mengetahui asbabun nuzul kecuali melalui riwayat yang shahih.
Mereka tidak dapat menerima hasil nalar dan ijtihad dalam masalah ini, namun tampaknya pandangan mereka tidak selamanya berlaku secara mutlak, tidak jarang pandangan terhadap riwayat-riwayat asbabun nuzul bagi ayat tertentu berbeda-beda yang kadang-kadang memerlukan Tarjih ( mengambil riwayat yang lebih kuat ) untuk melakukan tarjih diperlukan analisis dan ijtihad.
8. Manfaat Asbabul Nuzul
1. Membawa kepada pengetahuan tentang rahasia dan tujuan allah secara khusus mensyari’atkan agama-Nya melalui al-qur’an.
2. Membantu dalam memahami ayat dan menghindarkan kesulitannya.
3. Dapat menolak dugaan adanya Hasr ( pembatasan ).
4. Dapat mengkhususkan (Takhsis) hokum pada sebab menurut ulama yang memandang bahwa yang mesti diperhatikan adalah kekhususan sebab dan bukan keumuman lafal.
5. Diketahui pula bahwa sebab turun ayat tidak pernah keluar dari hokum yang terkandung dalam ayat tersebut sekalipun datang mukhasisnya ( yang mengkhususkannya ).
6. Diketahui ayat tertetu turun padanya secara tepat sehingga tidak terjadi kesamaran bisa membawa kepada penuduhan terhadap orang yang tidak bersalah dan pembebasan bagi orang yang tidak bersalah.
7. Akan mempermudah orang menghafal ayat-ayat al-qur’an serta memperkuat keberadaan wahyu dalam ingatan orang yang mendengarnya jika mengetahui sebab turunnya.

BAB III
PENUTUP


1. Kesimpulan
Seteleh mempelajari dan melihat pembahasan yang telah yang telah kita diskusikan panjang lebar diatas, asbabul nuzul dapat kami simpulkan bahwasannya, asbabul nuzul yaitu sebagai suatu hal karenanya al-qur’an diturunkan untuk menerangkan status hukumnya, pada masa hal itu terjadi, baik berupa peristiwa maupun pertanyaan”, serta memiliki faedah didalamnya, dan cara turunnya asbabul nuzul yaitu :
• Pertama ayat-ayat turun sebagai reaksi terhadap pertanyaan yang dikemukakan kepada nabi.
• Kedua ayat-ayat turun sebagai permulaan tanpa didahului oleh peristiwa atau pertanyaan.
• Ketiga ayat-ayat yang mempunyai sebab turun itu terbagi menjadi dua kelmpok;
 Ayat-ayat yang sebab turunnya harus diketahui ( hukum ) karena asbabun nuzulnya harus diketahui agar penetapan hukumnya tidak menjadi keliru.
 Ayat-ayat yang sebab turunnya tidak harus diketahui, ( ayat yang menyangkut kisah dalam al-qur’an).

2. Saran
Meskipun telah berusaha segenap tenaga, namun penulis menyandari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, untuk itu kami mengharap kritik dan saran dari rekan-rekan semua atau para pembacanya, yang bersifat membangun untuk perbaikan makalah yang selanjutnya,














DAFTAR PUSTAKA


Abdul Wahid, Ramli.1994. ulumul qur’an. Jakarta: Rajawali
http://www.muhsinf4.blogspot.com

0 komentar:

Poskan Komentar